Sejarah Desa

Pampang 30 April 2014 17:20:39 WIB

SEJARAH DESA PAMPANG  

Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta  

 

BAB I – PENDAHULUAN  

Profil Desa Pampang  

Desa Pampang merupakan salah satu dari 7 desa di Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Masyarakatnya hidup dengan prinsip guyub rukun, bergotong royong, dan melestarikan adat budaya leluhur.  

Mata Pencaharian Penduduk:  

- Petani dan buruh tani  

- PNS/guru  

- Pedagang  

- Pengrajin perak dan tembaga (gemblak)  

Adat Budaya yang Dilestarikan:  

  1. Upacara Adat:  

   - Rasulan (bersih dusun)  

   - Nyadran  

   - Sedhekah kirim doa  

   - Srabi kocor (permohonan hujan)  

  1. Seni Budaya:  

   - Wayang kulit/purwa  

   - Klenengan  

   - Reyog klasik  

   - Campursari RKP  

   - Sholawatan  

Sumber Penyusunan Sejarah:  

Buku ini disusun berdasarkan keterangan tim Penyusun Sejarah, sesepuh desa, dan narasumber terpercaya, serta bukti fisik petilasan yang masih ada.  

 

BAB II – KEADAAN WILAYAH  

Identitas Desa  

- Nama Resmi: Desa Pampang, Kec. Paliyan, Kab. Gunungkidul, DIY  

- Luas Wilayah: 371,6880 hektare  

- Jumlah Penduduk: 2.681 jiwa (1.341 laki-laki, 1.340 perempuan)  

- Kepala Keluarga (KK): 896 KK  

Pembagian Wilayah  

5 Padukuhan:  

  1. Polaman  
  2. Jetis  
  3. Pampang  
  4. Kedungdowo Wetan  
  5. Kedungdowo Kulon  

Batas Desa  

- Timur: Desa Wareng  

- Selatan: Desa Mulusan & Karangasem  

- Barat: Desa Grogol  

- Utara: Toboyo, Desa Plembutan  

 

BAB III – KONDISI SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA  

  1. Ekonomi  

Komposisi Pekerjaan:  

- Petani: 136 jiwa  

- Buruh tani: 212 jiwa  

- PNS: 36 jiwa  

- Pedagang: 112 jiwa  

- Pengrajin perak: 122 jiwa  

Sentra Kerajinan Perak:  

- Berdiri sejak 1960-an, hasilnya diekspor ke Eropa, Timur Tengah, dan Amerika.  

- Tahun 2009 dibangun Gallery Perak dengan bantuan PGN, diresmikan oleh Bupati Gunungkidul.  

  1. Pendidikan  

Tingkat Pendidikan Penduduk:  

- S-2: -  

- S-1: 6 jiwa  

- SMA/SLTA: 48 jiwa  

- SMP/SLTP: 54 jiwa  

- SD: 172 jiwa  

- TK/PAUD: 76 jiwa  

  1. Agama  

- Islam: 2.669 jiwa  

- Kristen/Katolik: 22 jiwa  

- Hindu/Buddha: -  

Sarana Ibadah: 12 masjid tersebar di 5 padukuhan.  

  1. Tradisi & Upacara Adat  

- Rasulan (Bersih Dusun): Syukur atas panen, dilaksanakan tiap padukuhan pada hari berbeda.  

- Kirim Doa: Permohonan kesuburan tanaman sebelum musim tanam.  

- Serabi Kocor: Ritual minta hujan di Sumur Gede Dusun Pampang.  

- Nyadran & Sedhekah Bayi: Tradisi siklus hidup (kelahiran hingga kematian).  

- Gumbregan: Selamatan hewan peliharaan pada Wuku Gumbreg.  

 

BAB IV – SEJARAH KEPEMIMPINAN  

Daftar Kepala Desa Pampang  

No

Nama Kepala Desa

Masa Jabatan

Keterangan

1

Kyai Lurah Sodinomo

[Tidak tercatat]

Lurah pertama

2

Kyai Lurah Songet

±1 tahun

Diberhentikan karena masalah administrasi

3

Kyai Lurah Harjo Suwito

1927–1948

Dalang wayang terkenal

4

Pawiro Utomo

1948–1965

Masa transisi pasca-G30S/PKI

5

Suyanto, SE

1965–1995

Pembangunan SD, pasar, dan balai desa

6

Sarmidi, SE

1996–2004

Modernisasi administrasi

7

Sugiyatno

2004–2014

-

8

Iswandi, SE

2015–2020

Rehabilitasi balai desa & BUMDes

9

Saiful Khohar

2021–sekarang

Masih menjabat

 

BAB V – ASAL-USUL DESA PAMPANG  

Asal Nama "Pampang"  

Berasal dari sempalaning pang-pang (cabang pohon besar yang patah), melambangkan abdi dalem Keraton yang menetap di wilayah ini.  

Sejarah Tiap Dusun  

  1. Polaman:  

   - Nama dari Pol (berakhir) + Ulama, merujuk pada Kyai Mangun Ijoyo (ulama pengembara).  

   - Peninggalan: Makam Kyai Mangun Ijoyo, markas Jenderal Sudirman (1946).  

  1. Jetis:  

   - Nama dari Boletis (sesepuh pendiri).  

   - Tempat angker: Pohon Randu Alas, Bumi Pasarean.  

  1. Pampang:  

   - Pusat pemerintahan, memiliki Sumur Gedhe untuk upacara Srabi Kocor.  

  1. Kedungdowo Wetan & Kulon:  

   - Kedung (sungai dalam) + Dowo (panjang).  

   - Peninggalan: Pasar Pon, Tugu Tranggulasi (bekas medan perang).  

 

BAB VI – SUMBER REFERENSI  

  1. Buku Silsilah Kyai Demang Wirjo Setjoko (1984)  
  2. Buku Trah Wono Dikromo (2000)  
  3. Wawancara dengan 13 narasumber sesepuh desa (usia 71–88 tahun).  

 

Penutup  

Desa Pampang merupakan contoh harmonisasi antara tradisi dan modernitas, dengan warisan budaya yang terus dilestarikan oleh generasi penerus.  

"Guyub Rukun, Subur Makmur, Pampang Ijo"